GELIATMEDIA.COM – Kota Bandung menjadi pusat perhatian dunia tenis meja Asia Tenggara dengan digelarnya 2nd Table Tennis ASEAN Club Championship (TTACC) 2026. Kejuaraan yang berlangsung mulai Kamis (11/6/2026) di Universitas Padjadjaran ini diikuti oleh 114 atlet dari 14 klub terbaik yang mewakili enam negara ASEAN.
Berbeda dari kejuaraan tenis meja pada umumnya, TTACC hadir sebagai ajang yang mempertemukan klub-klub terbaik di kawasan ASEAN melalui format kompetisi yang semakin profesional. Penyelenggara bahkan menargetkan turnamen ini berkembang menjadi kompetisi antarklub paling bergengsi di Asia Tenggara.
Pimpinan penyelenggara TTACC 2026, Yon Mardiono Oscar, S.H., mengatakan kejuaraan tersebut menjadi tolok ukur kemampuan atlet muda maupun senior yang mewakili klub dan negara masing-masing.
“Kejuaraan ini menjadi ukuran sejauh mana kemampuan atlet yang mewakili negaranya. Mereka tentu sudah melakukan persiapan panjang dan ingin menunjukkan hasil terbaik di Bandung,” ujar Yon saat jamuan makan malam atlet dan ofisial di Pendopo Wali Kota Bandung, Rabu (10/6/2026).
Menurut Yon, total hadiah yang mencapai lebih dari Rp120 juta menjadi salah satu faktor yang diperkirakan akan membuat persaingan berlangsung ketat pada penyelenggaraan tahun ini.
“Hadiahnya cukup besar sehingga menjadi motivasi tambahan bagi para peserta untuk tampil maksimal. Kami berharap kualitas kompetisi terus meningkat dan menarik lebih banyak peserta pada penyelenggaraan berikutnya,” katanya.
Yon menjelaskan, TTACC merupakan bagian dari agenda komunitas tenis meja ASEAN yang tergabung dalam ASEAN Club Championship Community (ACC Club). Organisasi tersebut berperan sebagai wadah kolaborasi antarklub tenis meja di kawasan Asia Tenggara guna membangun kompetisi yang berkelanjutan.
Kejuaraan perdana sebelumnya digelar di Bangkok, Thailand. Setelah Bandung menjadi tuan rumah tahun ini, penyelenggaraan berikutnya dijadwalkan berlangsung di Vietnam. Pola rotasi tersebut diharapkan mampu memperkuat jaringan pembinaan atlet di tingkat regional.
“Kami ingin menjadikan TTACC seperti Liga Champions di sepak bola, tetapi untuk tenis meja ASEAN. Klub-klub terbaik bertemu secara rutin dan kualitas persaingan terus meningkat dari tahun ke tahun,” ungkapnya.
Persaingan pada TTACC 2026 diprediksi semakin sengit karena sejumlah klub diperkuat pemain berkualitas internasional. Dalam regulasi kompetisi, setiap klub diperbolehkan merekrut pemain asing sehingga kekuatan tim menjadi lebih kompetitif.
Yon mencontohkan, salah satu klub asal Vietnam diperkuat pemain dari Tiongkok. Selain itu, sejumlah atlet Thailand juga hadir dengan pengalaman bertanding di level dunia dan reputasi yang cukup mentereng.
“Beberapa tim diperkuat pemain yang memiliki peringkat dunia cukup tinggi. Ini menunjukkan bahwa kualitas turnamen semakin meningkat dan mendapat perhatian serius dari klub-klub peserta,” ujarnya.
Dari Indonesia, perhatian tertuju kepada sejumlah atlet muda potensial yang mulai menunjukkan kiprah di kancah internasional. Salah satunya adalah Muhamad Naufal Junindra Irawan atau Naufal Junindra, atlet muda binaan klub ONIC Jakarta yang baru berusia 17 tahun dan saat ini menempati peringkat ke-63 dunia kategori U-19.
Kehadiran para atlet muda berprestasi tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan tenis meja di kawasan ASEAN terus berkembang dan mampu melahirkan pemain yang siap bersaing di level global.
Bagi Kota Bandung, penyelenggaraan TTACC 2026 tidak hanya menghadirkan kompetisi olahraga internasional, tetapi juga semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi penyelenggaraan event olahraga berskala regional.
Selama tiga hari pelaksanaan, perhatian pencinta tenis meja ASEAN akan tertuju ke Bandung sebagai arena pertarungan klub-klub terbaik dalam memperebutkan supremasi tenis meja Asia Tenggara.***
Reporter : Mia






