GELIATMEDIA.COM – Kebakaran lahan terjadi di area belakang Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) di Desa Cimanggu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Senin (20/7/2026).
Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran warga karena api terus merambat di tengah kondisi cuaca kemarau yang menyebabkan vegetasi kering dan mudah terbakar.
Menanggapi kejadian tersebut, Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Sukabumi langsung menerjunkan dua unit armada untuk melakukan pemadaman dan mencegah api meluas ke area sekitar.
Kepala Bidang Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Sukabumi, Erwin Adam Ridwan, mengatakan pihaknya bergerak cepat setelah menerima laporan kebakaran.
“Kita tangani. Mudah-mudahan cepat selesai. Dua unit armada sudah kami luncurkan dan semoga api dapat segera dipadamkan,” ujarnya.
Menurut Erwin, meningkatnya kejadian kebakaran lahan dan alang-alang tidak terlepas dari kondisi musim kemarau yang sedang berlangsung. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas.
“Hari ini kita sedang menghadapi musim kemarau, sehingga banyak lahan yang kering. Pembakaran sampah atau lahan justru dapat mengakibatkan kebakaran alang-alang yang sulit dikendalikan,” katanya.
Ia mengungkapkan, wilayah Palabuhanratu dan sekitarnya telah menerima lebih dari 10 laporan kebakaran alang-alang dalam beberapa waktu terakhir. Beberapa kejadian di antaranya terjadi di kawasan Cangehgar dan Simpenan.
Erwin menilai sekitar 70 persen kasus kebakaran alang-alang dipicu oleh faktor kesengajaan, terutama akibat aktivitas pembakaran lahan. Karena itu, pihaknya terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat melalui media sosial, penyebaran pamflet, hingga sosialisasi langsung di lapangan.
“Kami juga membutuhkan dukungan pemerintah desa untuk membantu menyebarluaskan informasi dan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya kebakaran lahan,” jelasnya.
Selain sosialisasi, Dinas Pemadam Kebakaran juga membentuk Relawan Kebakaran (Redkar) di sejumlah desa sebagai upaya memperkuat pencegahan dan penanganan kebakaran. Hingga saat ini, sebanyak 130 Redkar telah terbentuk di Kabupaten Sukabumi.
“Jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan karena Kabupaten Sukabumi memiliki 381 desa. Baru sekitar 30 hingga 40 persen desa yang telah memiliki Redkar,” ungkapnya.
Di sisi lain, Erwin mengakui bahwa keterbatasan sarana dan personel masih menjadi tantangan bagi pelayanan pemadam kebakaran di Kabupaten Sukabumi. Saat ini, wilayah yang terdiri dari 47 kecamatan dan 381 desa hanya dilayani oleh 15 armada dan 12 posko pemadam kebakaran.
“Secara normatif, kondisi kami masih belum ideal. Dengan luas wilayah Kabupaten Sukabumi, idealnya minimal tersedia 25 posko agar setiap dua kecamatan dapat dilayani oleh satu posko,” katanya.
Kekurangan personel juga menjadi persoalan yang dihadapi. Menurutnya, satu unit kendaraan pemadam idealnya dioperasikan oleh enam petugas, mulai dari pengemudi, operator, nozzleman, hingga personel pendukung lainnya. Namun saat ini rata-rata hanya empat petugas yang menangani satu unit kendaraan.
Selain itu, sebagian besar armada yang dimiliki merupakan kendaraan lama yang membutuhkan peremajaan. Erwin menyebut pengadaan armada baru terakhir dilakukan sekitar tahun 2022 atau 2023, namun jumlahnya masih belum memadai untuk menunjang pelayanan secara optimal.
Peristiwa kebakaran lahan tersebut terjadi bertepatan dengan aksi unjuk rasa warga Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, yang menuntut pemerintah segera memperbaiki saluran irigasi di wilayah mereka.
Warga mengeluhkan kondisi irigasi yang disebut sudah sekitar 17 tahun belum mendapatkan perbaikan, sehingga berdampak terhadap kebutuhan pertanian masyarakat setempat.***
Reporter : Dapit






