GELIATMEDIA.COM – Rumah Sakit (RS) Kebonjati Bandung memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menggelar upacara di pelataran parkir RS Kebonjati, Jalan Kebonjati, Bandung, Senin (17/8/2026).
Upacara dipimpin langsung Direktur RS Kebonjati, dr. Daniel P. Pakpahan, MARS, MH, dan diikuti sekitar 200 peserta. Mereka terdiri dari dokter, perawat, staf, karyawan dari berbagai bidang dan unit pelayanan, serta tamu undangan.
Peringatan HUT RI tahun ini mengusung tema “Merdeka Bersama, Tumbuh Bersama, Melayani dengan Hati”. Tema tersebut menjadi pesan bagi seluruh jajaran RS Kebonjati untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Sejumlah pejabat dan jajaran rumah sakit turut hadir, di antaranya dr. H. Susatyo, SH, MPH, dr. Ade, jajaran staf, perwakilan tenaga keperawatan, dokter, serta karyawan dari berbagai unit pelayanan.
Semarak Pakaian Adat Nusantara
Perayaan HUT ke-81 RI di RS Kebonjati berlangsung berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Seluruh peserta upacara mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.
Keberagaman busana tersebut menjadi simbol persatuan sekaligus menggambarkan semangat kebhinekaan di lingkungan RS Kebonjati.
Usai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pemotretan bersama oleh masing-masing bidang dan ruangan. Suasana berlangsung meriah ketika para karyawan tampil dengan pakaian adat yang beragam, namun tetap berada dalam satu semangat sebagai keluarga besar RS Kebonjati.
Dr. Daniel: Bebas Biaya Tambahan Lebih Dibutuhkan Pasien
Dalam kesempatan setelah upacara, Direktur RS Kebonjati dr. Daniel P. Pakpahan menyampaikan pandangannya mengenai makna kemerdekaan dalam pelayanan kesehatan, termasuk harapan bagi pasien kurang mampu.
Saat ditanya mengenai “kado kemerdekaan” yang paling diharapkan pasien miskin, apakah bebas antrean atau bebas biaya obat tambahan, dr. Daniel menilai antrean merupakan bagian yang tidak sepenuhnya dapat dihilangkan dalam pelayanan rumah sakit.
“Kalau bebas antrean kita tidak bisa hilangkan. Bagaimanapun wilayah antre itu pasti ada dan harus ada. Justru di situ kita menguji kesabaran dan bagaimana cara kita mengatur,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan biaya tambahan menjadi tantangan tersendiri karena rumah sakit tetap harus mengikuti kewenangan dan ketentuan medis dalam menangani pasien.
Karena itu, komunikasi dan sosialisasi antara rumah sakit, pasien, tenaga medis, serta pihak terkait dinilai penting agar kebutuhan pelayanan dapat dipahami bersama.
“Dengan kondisi seperti sekarang, apalagi Jawa Barat 90 persen BPJS, hal itu tidak bisa kita lakukan secara leluasa. Tetap akan ada kepentingan pemerintah ataupun rumah sakit,” katanya.
Dr. Daniel menegaskan, rumah sakit perlu mengambil langkah bijaksana agar pelayanan kepada pasien tetap berjalan, sementara keberlangsungan rumah sakit juga dapat terjaga.
Kemerdekaan Tenaga Kesehatan Berarti Bebas Berpendapat dan Bertanggung Jawab
Dr. Daniel juga menekankan bahwa makna kemerdekaan bagi tenaga kesehatan bukan sekadar menikmati hari libur pada tanggal merah.
Menurutnya, kemerdekaan di lingkungan rumah sakit berarti memberikan ruang kepada sumber daya manusia (SDM) untuk menyampaikan pendapat, berkomunikasi, sekaligus mengambil tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
“Yang paling penting adalah saling percaya. Salah satu budaya yang kami tanamkan adalah service excellent dalam pelayanan,” jelasnya.
Sejak memimpin RS Kebonjati, salah satu perhatian dr. Daniel adalah memberikan kesempatan kepada SDM untuk menyampaikan pikiran dan pendapat.
Ia menilai kebebasan yang disertai tanggung jawab akan membuat SDM semakin dewasa dan mampu memberikan kontribusi lebih baik bagi organisasi.
“Ketika saya datang ke sini, yang paling penting saya pegang adalah bagaimana caranya SDM merdeka dalam mengungkapkan pikiran dan pendapatnya,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan tersebut mulai terlihat dalam budaya kerja di lingkungan RS Kebonjati. Para karyawan dinilai semakin berani tampil, berkreasi, dan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan rumah sakit.
“Bagi saya, saya selalu sampaikan kepada mereka, apa yang kamu mau silakan. Saya tidak melarang. Tetapi ketika salah, kita harus bertanggung jawab. Itulah kebebasan,” tegasnya.
Empat Prinsip Budaya Organisasi
Untuk membangun pelayanan yang semakin baik, dr. Daniel menyebut terdapat empat prinsip yang terus didorong dalam manajemen RS Kebonjati, yakni koordinasi, komunikasi, konsistensi, dan komitmen.
Keempat prinsip tersebut diharapkan dapat memperkuat budaya organisasi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.
“Bebas berkomunikasi dan bebas berkoordinasi sehingga terbentuk budaya organisasi yang sekarang jauh lebih baik,” katanya.
Ia mengaku bangga melihat perkembangan SDM RS Kebonjati yang semakin berani menunjukkan kreativitas dan kebersamaan.
Peringatan HUT ke-81 RI pun tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga menjadi refleksi bagi seluruh keluarga besar RS Kebonjati untuk terus merdeka dalam berpikir, tumbuh dalam kebersamaan, serta memberikan pelayanan kesehatan dengan hati.
Dengan semangat tersebut, RS Kebonjati berkomitmen melanjutkan peningkatan kualitas pelayanan sekaligus membangun lingkungan kerja yang terbuka, komunikatif, dan bertanggung jawab bagi seluruh tenaga kesehatan serta karyawan.***
Reporter : Mia








Komentar