BPD PHRI Jabar Gelar Halal Bihalal, Soroti Tantangan Industri Perhotelan dan Pariwisata

- Admin

Sabtu, 18 April 2026 - 12:22 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
Traktir Kopi

Halal bihalal BPD PHRI Jawa Barat

Halal bihalal BPD PHRI Jawa Barat

GELIATMEDIA.COM – Dalam upaya mempererat silaturahmi antar pengurus dan anggota serta memperkuat sinergi dengan pemerintah, Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Jawa Barat menggelar Halal Bihalal Keluarga Besar PHRI Jabar 1447 H. Kegiatan tersebut berlangsung di Artotel Suite Aquila, Jalan Surya Sumantri, Kota Bandung, Jumat (17/4/2026).

Acara ini dihadiri perwakilan 24 Ketua BPC PHRI se-Jawa Barat, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat Dr. Iendra Sofyan yang mewakili Gubernur Jawa Barat, mantan Wali Kota Bandung H. Dada Rosada, mantan Wakil Bupati Bandung H. Deden Ruchiyat, serta Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Bandung Dudi Prayudi yang mewakili Wali Kota Bandung.

Ketua BPD PHRI Jawa Barat, Dodi Ahmad, menegaskan bahwa kegiatan halal bihalal tidak sekadar seremoni, melainkan menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi.

Baca Juga :  Menang Hingga MA, Warga Pasirluyu Desak Pemkot Bandung Patuhi Putusan Pengadilan

“Ini merupakan ikhtiar dalam merawat silaturahmi, memperkuat konsolidasi, dan meneguhkan komitmen bahwa PHRI harus kuat agar pariwisata maju dan Indonesia semakin jaya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selama Ramadan 1447 H, PHRI Jawa Barat bersama BPC telah aktif menggelar berbagai kegiatan sosial di sejumlah daerah, seperti santunan anak yatim, buka puasa bersama, hingga bazar UMKM. Sebelumnya, pada 23 Februari 2026, PHRI Jabar juga sukses menyelenggarakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) di Hotel Papandayan, Bandung.

Meski demikian, Dodi mengakui industri perhotelan dan restoran di Jawa Barat masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya rendahnya okupansi pada hari kerja, persaingan tarif yang ketat melalui platform OTA, serta penerapan pajak PB1 sebesar 10 persen yang dinilai mengurangi daya saing terhadap akomodasi ilegal. Selain itu, kebijakan work from home (WFH) bagi ASN setiap Jumat turut berdampak pada penurunan kegiatan MICE.

Baca Juga :  Wisatawan Padati Kawasan Asia Afrika dan Braga Bandung pada H+1 Lebaran

Sebagai solusi, PHRI Jawa Barat mendorong pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada industri, meliputi pemberian insentif fiskal bagi sektor padat karya, penertiban akomodasi ilegal yang merugikan pendapatan asli daerah (PAD), serta pemerataan penyelenggaraan event pariwisata hingga ke wilayah Ciayumajakuning, Priangan Timur, dan Jawa Barat bagian selatan.

Dodi juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan industri perhotelan. Menurutnya, tren wisata saat ini tidak lagi sekadar menginap, melainkan mencari pengalaman yang berkesan.

“Hotel harus bertransformasi dari sekadar staycation menjadi ‘impact-ation’. Sertifikasi CHSE perlu dipercepat, dapur halal didorong, dan SDM harus ditingkatkan kemampuan digitalnya agar wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga berbelanja dan kembali lagi,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi demi meningkatkan perputaran ekonomi yang berdampak langsung bagi karyawan hingga pelaku UMKM.

Baca Juga :  Api Nyaris Merambat ke Area Pasar Lain, Petugas Damkar Sigap Kendalikan Kebakaran

Sementara itu, Ketua PHRI Kabupaten Cirebon, Ida Kartika, dalam wawancara usai acara, menyampaikan bahwa pelaku usaha hotel dan restoran saat ini menghadapi kondisi yang cukup berat akibat sejumlah kebijakan yang dinilai kurang berpihak.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu mengkaji ulang kebijakan terkait okupansi hotel, terutama pada momen puncak seperti Lebaran dan Tahun Baru. Ia juga menyoroti kebijakan pembatasan penggunaan hotel untuk kegiatan dinas atau rapat pemerintah.

“Kebijakan tersebut berpotensi berdampak pada keberlangsungan usaha serta nasib karyawan hotel,” ujarnya.

Ia berharap adanya kebijakan yang lebih seimbang agar industri perhotelan dan restoran tetap mampu bertahan sekaligus berkontribusi terhadap perekonomian daerah.***

 

 

 

Reporter: Mia

 

Berita Terkait

Ribuan Warga Memadati Alun-alun Cangehgar, KORMI Sukabumi Genjot Olahraga Masyarakat
Musdes Desa Cimaja Bahas RKPDes 2027, Warga Sampaikan Beragam Aspirasi Pembangunan
Bukan Undian! Owner PT Jatmika Banda Saputra Bawa Pulang Suzuki Carry dari Fortress di Bandung
BuildNext One Day Exhibition 2026 Digelar di Bandung, Perkuat Kolaborasi Industri Konstruksi dan Properti
Gegap Gempita HUT ke-81 RI, Sukabumi Tunjukkan Semangat Kemerdekaan
RS Kebonjati Semarakkan HUT ke-81 RI dan Usia ke-78 dengan Kebersamaan
SURF COMPETITION 2026–Independence Day Resmi Ditutup, Semarak Kemerdekaan Menggema di Cimaja
Libatkan Dua Pelajar, PENYU Kibarkan Merah Putih di Dasar Laut Palabuhanratu

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:06 WIB

Ribuan Warga Memadati Alun-alun Cangehgar, KORMI Sukabumi Genjot Olahraga Masyarakat

Jumat, 21 Agustus 2026 - 17:35 WIB

Musdes Desa Cimaja Bahas RKPDes 2027, Warga Sampaikan Beragam Aspirasi Pembangunan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Bukan Undian! Owner PT Jatmika Banda Saputra Bawa Pulang Suzuki Carry dari Fortress di Bandung

Kamis, 20 Agustus 2026 - 11:59 WIB

Gegap Gempita HUT ke-81 RI, Sukabumi Tunjukkan Semangat Kemerdekaan

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:58 WIB

RS Kebonjati Semarakkan HUT ke-81 RI dan Usia ke-78 dengan Kebersamaan

Berita Terbaru

error: Content is protected !!