GELIATMEDIA.COM – Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi terus mendorong peningkatan pemahaman masyarakat mengenai keamanan pangan hasil perikanan. Salah satu edukasi yang disampaikan adalah mengenal histamin pada ikan, penyebab terbentuknya, dampaknya bagi kesehatan, serta langkah pencegahan agar ikan yang dikonsumsi tetap aman dan berkualitas.
Edukasi ini penting karena ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang baik bagi tubuh. Namun, selain memperhatikan kandungan gizinya, masyarakat juga perlu memahami cara memilih, menangani, mengolah, dan menyimpan ikan secara tepat untuk menjaga mutu serta keamanan pangan.
Histamin merupakan senyawa yang dapat terbentuk secara alami pada ikan tertentu akibat aktivitas bakteri yang mengubah asam amino histidin menjadi histamin. Proses tersebut dapat berlangsung ketika ikan tidak ditangani dan disimpan pada suhu yang sesuai, terutama setelah ikan ditangkap.
Jenis ikan yang memiliki kandungan histidin tinggi, seperti tuna, tongkol, cakalang, dan kelompok ikan sejenis, berisiko mengalami pembentukan histamin apabila penanganannya tidak tepat.
Histamin dalam kadar tinggi pada ikan dapat menyebabkan keracunan histamin atau dikenal sebagai scombroid poisoning. Kondisi ini dapat terjadi setelah seseorang mengonsumsi ikan yang mengandung histamin berlebihan.
Gejala yang dapat muncul antara lain kulit kemerahan, rasa gatal, sensasi panas pada wajah, sakit kepala, jantung berdebar, mual, muntah, dan diare. Gejala biasanya muncul dalam waktu relatif singkat setelah mengonsumsi ikan yang terkontaminasi histamin.
Apabila mengalami gejala setelah mengonsumsi ikan, masyarakat disarankan segera mencari pertolongan medis, terutama jika timbul sesak napas, pembengkakan pada wajah atau tenggorokan, maupun tanda reaksi berat lainnya.
Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi mengingatkan bahwa pencegahan pembentukan histamin perlu dilakukan sejak ikan ditangkap hingga sampai ke tangan konsumen.
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan masyarakat:
1. Pilih ikan yang ditangani dengan baik.** Belilah ikan dari penjual yang menjaga kebersihan serta menerapkan penyimpanan yang sesuai.
2. Jaga suhu penyimpanan. Ikan segar harus segera didinginkan setelah ditangkap. Simpan ikan dalam lemari pendingin atau freezer sesuai kebutuhan dan jangan membiarkannya terlalu lama pada suhu ruang.
3. Pertahankan rantai dingin. Selama pengangkutan, distribusi, dan penjualan, suhu ikan harus tetap terjaga agar pertumbuhan bakteri dan pembentukan histamin dapat ditekan.
4.Terapkan kebersihan. Gunakan peralatan yang bersih dan hindari kontaminasi silang selama penanganan maupun pengolahan ikan.
5. Jangan mengandalkan bau atau penampilan. Ikan yang mengandung histamin tinggi belum tentu menunjukkan perubahan bau, warna, atau tekstur yang mudah dikenali.
6. Olah ikan secara benar. Memasak ikan hingga matang penting untuk keamanan pangan, tetapi tidak dapat diandalkan untuk menghilangkan histamin yang sudah terbentuk.
Keamanan Pangan Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Upaya menjaga keamanan ikan tidak hanya menjadi tanggung jawab nelayan atau pedagang, tetapi juga membutuhkan perhatian dari seluruh pihak, mulai dari proses penangkapan, penanganan, pengangkutan, penyimpanan, hingga pengolahan di rumah tangga.
Melalui edukasi mengenai histamin ini, Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi mengajak masyarakat untuk semakin cermat dalam memilih dan menangani ikan. Pengetahuan yang tepat diharapkan dapat membantu mengurangi risiko keracunan histamin sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengonsumsi produk perikanan yang aman, bermutu, dan bergizi.
Dengan penanganan yang baik dan penerapan prinsip keamanan pangan, ikan dapat tetap menjadi pilihan sumber protein yang menyehatkan bagi keluarga.
Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi juga mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan pengetahuan mengenai keamanan hasil perikanan, sehingga kebiasaan mengonsumsi ikan dapat didukung oleh pemahaman yang benar tentang kualitas, kesegaran, dan cara penyimpanannya.***
(Red)








Komentar