GELIATMEDIA.COM – Persoalan sampah kembali menjadi sorotan dalam Saresehan Kaukus Ketokohan Jawa Barat bertajuk “Bapak Langit, Ibu Bumi” yang digelar di Asrilia Hotel Bandung, Jumat (5/6/2026).
Forum tersebut menjadi ruang refleksi berbagai pihak untuk membahas tantangan lingkungan yang hingga kini masih dihadapi Jawa Barat.
Dalam kesempatan itu, mantan Wali Kota Bandung, H. Dada Rosada, mengingat kembali tragedi longsor Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah pada tahun 2005 yang menewaskan ratusan warga. Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi salah satu bencana lingkungan terbesar yang pernah terjadi di Jawa Barat.
Di hadapan para akademisi, tokoh masyarakat, pemerhati lingkungan, dan pemangku kebijakan, Dada mengungkapkan bahwa dirinya sempat merasa bertanggung jawab penuh atas musibah tersebut. Ia bahkan mengaku siap diberhentikan apabila tidak mampu mengatasi krisis yang terjadi saat itu.
“Kalau saya tidak bisa menyelesaikan masalah ini, silakan saya diberhentikan,” kenang Dada saat menceritakan kondisi pascakejadian.
Setelah penutupan TPA Leuwigajah, Pemerintah Kota Bandung saat itu menghadapi tantangan besar untuk mencari lokasi pembuangan sementara. Berbagai alternatif sempat dipertimbangkan, mulai dari pemanfaatan lahan di sejumlah wilayah hingga akhirnya menggunakan kawasan Sarimukti yang saat itu masih merupakan kawasan hijau.
Menurut Dada, penggunaan Sarimukti sejak awal dirancang hanya sebagai solusi sementara. Karena itu, ia mendorong pembangunan sistem pengolahan sampah modern berbasis teknologi melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Berbagai kajian dilakukan bersama akademisi dan investor, termasuk mempelajari sistem pengelolaan sampah di Singapura dan China yang berhasil mengubah sampah menjadi sumber energi.
Namun, upaya tersebut tidak berlanjut sebagaimana yang diharapkan. Dada menilai krisis sampah yang masih terjadi hingga saat ini menunjukkan pentingnya keberlanjutan kebijakan dalam pengelolaan lingkungan.
“Kalau krisis sampah terjadi lagi hari ini, seharusnya yang dievaluasi adalah keberlanjutan kebijakannya. Karena solusi sudah pernah dirancang, tetapi tidak diteruskan secara konsisten,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab pemerintah, mulai dari pengangkutan, pengolahan hingga pemrosesan akhir. Sementara masyarakat memiliki peran penting dalam melakukan pemilahan sampah dari sumbernya.
Selain persoalan sampah, Dada juga menyoroti berbagai faktor yang turut memperburuk kondisi lingkungan, seperti alih fungsi lahan, kerusakan kawasan hutan, serta lemahnya tata kelola lingkungan. Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat.
Ia menekankan pentingnya keberanian pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan, sehingga tidak lagi bergantung pada solusi jangka pendek ketika kapasitas tempat pembuangan akhir telah terlampaui.
Saresehan “Bapak Langit, Ibu Bumi” menjadi wadah diskusi dan refleksi mengenai masa depan lingkungan di Jawa Barat. Forum tersebut menghasilkan pesan penting bahwa persoalan sampah tidak boleh dipandang sebagai masalah musiman, melainkan sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan kepemimpinan dan kebijakan yang konsisten.
Dengan pengelolaan yang tepat, sampah tidak hanya dapat diatasi sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi masyarakat. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya kebersihan kota, melainkan masa depan lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.***
Reporter : Mia






