GELIATMEDIA.COM – Polemik munculnya dua kubu dalam tubuh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Sukabumi menuai beragam respons dari berbagai elemen kepemudaan. Salah satunya datang dari Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sukabumi (HIPPMA), organisasi yang mewadahi aspirasi pemuda, pelajar, dan mahasiswa asal Sukabumi.
Perbedaan sikap dan garis koordinasi dalam sebuah organisasi dinilai sebagai hal yang tidak terelakkan. Kondisi tersebut kini terjadi di internal KNPI Kabupaten Sukabumi, ditandai dengan adanya dua Musyawarah Daerah (Musda). Menurut HIPPMA, situasi tersebut tidak semata-mata dapat dipandang dari sudut benar atau salah, melainkan sebagai refleksi keyakinan dan sikap organisatoris masing-masing elemen pemuda.
Ketua Umum HIPPMA Sukabumi, Rahman Abbizard Mushaf, menegaskan bahwa orientasi utama gerakan kepemudaan adalah membangun pemuda Kabupaten Sukabumi yang mubarakah, berdaya, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
“Orientasi utama kami adalah membangun pemuda Kabupaten Sukabumi yang mubarakah, berdaya, dan bermanfaat bagi masyarakat. Atas dasar komitmen itulah kami mengambil sikap organisasi dengan penuh pertimbangan dan tanggung jawab,” ujar Rahman Minggu (4/1/2026).
Rahman menyampaikan, HIPPMA Sukabumi memilih untuk bersikap tegak lurus terhadap kepemimpinan Ali Hanapi. Sikap tersebut, menurutnya, bukan dilandasi ambisi atau niat untuk memecah belah, melainkan berdasarkan keyakinan organisasi yang dianggap sah serta sejalan dengan nurani dan pemahaman terhadap dinamika internal KNPI.
Dalam konteks itu, HIPPMA menyatakan dukungannya terhadap Musyawarah Daerah yang digelar di Selabintana, yang menetapkan Gilang Gusmana sebagai Ketua KNPI Kabupaten Sukabumi.
“Perlu ditegaskan bahwa pilihan ini tidak dimaksudkan untuk menegasikan forum atau kepemimpinan lain. Kami menghormati setiap proses yang telah dan sedang berjalan. Namun dalam organisasi, setiap elemen memiliki hak menentukan sikap, selama dilakukan secara terbuka, bermartabat, dan bertanggung jawab,” tegas Rahman.
Ia juga menilai, Musda Selabintana harus dipandang sebagai wujud konsistensi sikap dan keyakinan organisasi, bukan sebagai upaya intrik atau pemufakatan jahat. Narasi saling tuding, menurutnya, justru berpotensi memperlebar jarak antar pemuda dan mencederai semangat kebersamaan.
Sebagai bagian dari elemen pemuda di Sukabumi, HIPPMA menegaskan bahwa perbedaan sikap tidak seharusnya berujung pada permusuhan. Pemuda Sukabumi dinilai lebih membutuhkan ruang dialog, sikap saling menghormati, serta kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pandangan.
“Pada akhirnya, tujuan besar kita tetap sama, yaitu membangun pemuda Kabupaten Sukabumi yang mubarakah. Dengan niat yang lurus dan sikap yang kami yakini, kami percaya langkah yang kami tempuh berada di jalan yang benar,” pungkasnya.***
Reporter : Asep Topiq






