Berawal dari 61 Rumah Reot, Ibu Ratna Bangun Sekolah Gratis Penuh Harapan

- Admin

Selasa, 21 April 2026 - 15:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perjuangan Ibu Ratna membuktikan bahwa kepedulian bisa melahirkan perubahan nyata. 

Perjuangan Ibu Ratna membuktikan bahwa kepedulian bisa melahirkan perubahan nyata. 

GELIATMEDIA.COM – Kisah inspiratif datang dari seorang perempuan bernama Ibu Ratna yang selama 12 tahun terakhir mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan anak-anak marjinal. Bersama suaminya, ia memulai langkah dengan mendatangi 61 rumah tidak layak huni di Kota Bandung untuk mencari anak-anak yang kehilangan harapan, bukan sekadar mencari tempat tinggal.

Dari upaya tersebut, lahirlah sebuah sekolah gratis yang kini telah membina sedikitnya 185 anak dari berbagai latar belakang, mulai dari anak korban perceraian, anak jalanan, hingga anak tenaga kerja Indonesia (TKI) di Nunukan, Kalimantan Utara, yang belum mampu membaca dan menulis meski telah duduk di bangku sekolah dasar.

Ibu Ratna mengaku, pada awal perjuangannya ia sempat mendapat kecurigaan dari masyarakat. “Awalnya saya dicurigai, bahkan dianggap preman. Padahal kami hanya punya kepedulian terhadap anak-anak,” ujarnya saat ditemui di kawasan Festival Citylink, Bandung, tempat ia rutin menggelar kegiatan setiap Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional.

Baca Juga :  Wabup Hadiri Wisuda193 Mahasiswa Stisip Widiapuri Mandiri Harus Jadi SDM Cerdas Dan Berdayasaing Di Era Digital

Sekolah yang dirintisnya bukanlah lembaga pendidikan formal pada umumnya, melainkan sebuah “sekolah hati” yang berfokus pada pembentukan karakter anak. Ia menegaskan bahwa tujuan utama pendirian sekolah tersebut adalah mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat serta mencintai budaya lokal, khususnya budaya Sunda.

Dalam kegiatan belajar, anak-anak tidak hanya mendapatkan pelajaran akademik seperti matematika, tetapi juga pembinaan disiplin dan pengenalan budaya melalui pertunjukan wayang golek. Meski tidak dipungut biaya, Ibu Ratna menerapkan aturan tegas dalam proses belajar mengajar.

Kegiatan belajar berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.30 bagi anak usia dini hingga sekolah dasar. Selain di Bandung, sebagian kegiatan belajar juga dilakukan di wilayah Parongpong pada hari-hari tertentu.

Baca Juga :  Pemkab Sukabumi Dukung Larangan Penahanan Ijazah oleh Sekolah, Sebut Kebijakan Pro Rakyat

Perjuangan Ibu Ratna tidak hanya berlangsung di Bandung. Ia dan suaminya juga pernah mengabdi selama empat tahun di Nunukan, Kalimantan Utara, wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Di sana, mereka mendirikan sekolah bagi anak-anak TKI dan TKW yang mengalami keterbatasan akses pendidikan.

Menurutnya, banyak anak di wilayah tersebut yang belum bisa membaca dan menulis, bahkan sebagian berasal dari keluarga yang mengalami deportasi atau memiliki kondisi sosial yang sulit. Untuk membekali masa depan mereka, Ibu Ratna juga mengajarkan bahasa asing seperti Mandarin dan Bahasa Inggris.

Dalam menjalankan sekolahnya, Ibu Ratna mengakui menghadapi berbagai kendala, termasuk dalam pengurusan administrasi yayasan yang dinilai rumit. Meski demikian, ia memilih tetap fokus menjalankan kegiatan pendidikan secara mandiri.

Pendanaan sekolah pun dikelola secara sederhana dan digunakan sepenuhnya untuk operasional kegiatan belajar. Ia menegaskan bahwa tujuan utamanya bukanlah mencari keuntungan, melainkan memberikan manfaat bagi anak-anak yang membutuhkan.

Baca Juga :  Lurah Palabuanratu Tunaikan Janji, Siaga 24 Jam Bantu Warga Tak Mampu

Saat ini, sebanyak 185 anak telah merasakan manfaat dari sekolah tersebut. Ibu Ratna menilai bahwa pembentukan mental menjadi aspek terpenting dalam pendidikan. “Mental lebih penting dari sekadar pintar. Kalau mental kuat, pelajaran apa pun bisa diterima,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Ibu Ratna mengajak masyarakat dan pemerintah untuk lebih memperhatikan kondisi anak-anak dari kalangan kurang mampu. Ia berharap adanya dukungan agar sekolah yang dirintisnya dapat berkembang dan menjangkau lebih banyak anak.

“Jangan hanya melihat ke atas, sesekali lihat ke bawah. Masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan dan perhatian yang layak,” tuturnya.***

 

 

 

 

 

 

Reporter : Mia

 

 

 

 

 

 

Follow WhatsApp Channel geliatmedia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Bandung Dorong Akses Pendidikan Melalui Program Beasiswa dan PKBM
27 Anggota Paskibra Cikakak Resmi Dikukuhkan, Satu Peserta dari PKBM Muslim Cendikia Jadi Sorotan
UNPAR Gelar Pelatihan Paralegal di Palabuhanratu, Dorong Pemahaman Hukum Masyarakat
Empat Ruang Kelas Rusak Berat, MAN 2 Sukabumi Butuh Penambahan Ruang Baru
Mahasiswi Asal Sukabumi Wakili Indonesia di Festival Pantun Antarbangsa di Brunei
Pemkab Sukabumi Dukung Larangan Penahanan Ijazah oleh Sekolah, Sebut Kebijakan Pro Rakyat
PSAJ Paket C di PKBM Muslim Cendikia Cikakak Berakhir Sukses dan Lancar
STIES Gasantara Indonesia Kampus Palabuhanratu Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2025/2026

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 15:53 WIB

Berawal dari 61 Rumah Reot, Ibu Ratna Bangun Sekolah Gratis Penuh Harapan

Jumat, 27 Maret 2026 - 22:15 WIB

Bupati Bandung Dorong Akses Pendidikan Melalui Program Beasiswa dan PKBM

Minggu, 17 Agustus 2025 - 13:35 WIB

27 Anggota Paskibra Cikakak Resmi Dikukuhkan, Satu Peserta dari PKBM Muslim Cendikia Jadi Sorotan

Jumat, 18 Juli 2025 - 16:32 WIB

UNPAR Gelar Pelatihan Paralegal di Palabuhanratu, Dorong Pemahaman Hukum Masyarakat

Jumat, 20 Juni 2025 - 18:38 WIB

Empat Ruang Kelas Rusak Berat, MAN 2 Sukabumi Butuh Penambahan Ruang Baru

Berita Terbaru

error: Content is protected !!