GELIATMEDIA.COM – Kisah inspiratif datang dari seorang perempuan bernama Ibu Ratna yang selama 12 tahun terakhir mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan anak-anak marjinal. Bersama suaminya, ia memulai langkah dengan mendatangi 61 rumah tidak layak huni di Kota Bandung untuk mencari anak-anak yang kehilangan harapan, bukan sekadar mencari tempat tinggal.
Dari upaya tersebut, lahirlah sebuah sekolah gratis yang kini telah membina sedikitnya 185 anak dari berbagai latar belakang, mulai dari anak korban perceraian, anak jalanan, hingga anak tenaga kerja Indonesia (TKI) di Nunukan, Kalimantan Utara, yang belum mampu membaca dan menulis meski telah duduk di bangku sekolah dasar.
Ibu Ratna mengaku, pada awal perjuangannya ia sempat mendapat kecurigaan dari masyarakat. “Awalnya saya dicurigai, bahkan dianggap preman. Padahal kami hanya punya kepedulian terhadap anak-anak,” ujarnya saat ditemui di kawasan Festival Citylink, Bandung, tempat ia rutin menggelar kegiatan setiap Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional.
Sekolah yang dirintisnya bukanlah lembaga pendidikan formal pada umumnya, melainkan sebuah “sekolah hati” yang berfokus pada pembentukan karakter anak. Ia menegaskan bahwa tujuan utama pendirian sekolah tersebut adalah mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat serta mencintai budaya lokal, khususnya budaya Sunda.
Dalam kegiatan belajar, anak-anak tidak hanya mendapatkan pelajaran akademik seperti matematika, tetapi juga pembinaan disiplin dan pengenalan budaya melalui pertunjukan wayang golek. Meski tidak dipungut biaya, Ibu Ratna menerapkan aturan tegas dalam proses belajar mengajar.
Kegiatan belajar berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.30 bagi anak usia dini hingga sekolah dasar. Selain di Bandung, sebagian kegiatan belajar juga dilakukan di wilayah Parongpong pada hari-hari tertentu.
Perjuangan Ibu Ratna tidak hanya berlangsung di Bandung. Ia dan suaminya juga pernah mengabdi selama empat tahun di Nunukan, Kalimantan Utara, wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Di sana, mereka mendirikan sekolah bagi anak-anak TKI dan TKW yang mengalami keterbatasan akses pendidikan.
Menurutnya, banyak anak di wilayah tersebut yang belum bisa membaca dan menulis, bahkan sebagian berasal dari keluarga yang mengalami deportasi atau memiliki kondisi sosial yang sulit. Untuk membekali masa depan mereka, Ibu Ratna juga mengajarkan bahasa asing seperti Mandarin dan Bahasa Inggris.
Dalam menjalankan sekolahnya, Ibu Ratna mengakui menghadapi berbagai kendala, termasuk dalam pengurusan administrasi yayasan yang dinilai rumit. Meski demikian, ia memilih tetap fokus menjalankan kegiatan pendidikan secara mandiri.
Pendanaan sekolah pun dikelola secara sederhana dan digunakan sepenuhnya untuk operasional kegiatan belajar. Ia menegaskan bahwa tujuan utamanya bukanlah mencari keuntungan, melainkan memberikan manfaat bagi anak-anak yang membutuhkan.
Saat ini, sebanyak 185 anak telah merasakan manfaat dari sekolah tersebut. Ibu Ratna menilai bahwa pembentukan mental menjadi aspek terpenting dalam pendidikan. “Mental lebih penting dari sekadar pintar. Kalau mental kuat, pelajaran apa pun bisa diterima,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Ibu Ratna mengajak masyarakat dan pemerintah untuk lebih memperhatikan kondisi anak-anak dari kalangan kurang mampu. Ia berharap adanya dukungan agar sekolah yang dirintisnya dapat berkembang dan menjangkau lebih banyak anak.
“Jangan hanya melihat ke atas, sesekali lihat ke bawah. Masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan dan perhatian yang layak,” tuturnya.***
Reporter : Mia






